Chapel Terakhir

Tolong pastikan jumlah laporan chapel yang telah saudara posting. terima kasih.

This entry was posted on Saturday, November 26th, 2011 at 10:49 am and is filed under Uncategorized. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Responses are currently closed, but you can trackback from your own site.

2 Responses to “Chapel Terakhir”

  1. vanesia Says:

    Nama:vanesia
    Nim:01120090157
    Chapel ke 11
    Faith that overcomes the world
    Pembicara: Bapak Jonathan L Parapak
    Belajar dari kisah Yusuf dan Abraham , kalau kita melihat kiisah kedua tokoh alkitab ini maka kita bisa melihat dalam rentetan hidup mereka kita dapat melihat bagaimana kesetiaan mereka dalam mengikuti Tuhan. Karna kesetiaan mereka , maka Tuhan membawa mereka keluar dan menjadi pemenang. Abraham adalah bapak orang beriman, sebenarnya iman seperti apa yang Abraham miliki? Kita bisa lihaat di dalam ibrani 11. Beriman itu berarti percaya dengan semua kehendak Allah, iman juga lahir dari Allah karna kita mengasihi Allah dan melaksanakan perintahnya. Dalam Yohanes 15:15 kita bisa melihat bahwa kita bisa mengalahkan dunia karna iman kita kepada Tuhan bukan iman yg lahir dari diri kita sendiri. Konteks dunia dalam perikop ini adalah segala nafsu jahat dalam diri kita yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Kita bisa mengalahkan dunia hanya karena firman Tuhan yang diam di dalam kita. Yang terpenting adalah komitmen kita dalam mengikuti Tyuhan, jamahan Tuhan dan bagaimana kita mengenal Tuhan kita. Mengalahkan dunia juga berarti kita harus [ergi menjadi saksi kristus.
    Refleksi diri:
    Iman berarti kita percaya sepenuhnya kepada Tuhan apapun yang Tuhan perbuat dalam hidup kita , kita tau itu adalah kehendak Tuhan. Kesetiaan mengikut Tuhan juga sangatlah penting kita gak bisa bilang kalo kita mengasihi dan mencintai Tuhan tapi kita gak setia dengan Tuhan. Iman kita yang akan menentukan jadi apa kita kedepan nya. Iman yang kecil pun bisa mengalahkan dunia oleh karena itu kita tidak boleh mengannggap remeh iman.

  2. Yohanes Says:

    1. Nama: Yohanes
    2. NIM: 11220090008
    3. Kode Kelas: AHB
    4. No. Urut Kelas:35
    5. No. Urut Laporan: 12
    6. Tema Khotbah: Hidup di Tengah Babel
    7. Pembicara: Agus Mardianto
    8. Nats Alkitab: Daniel 1:1-9
    9. Materi Khotbah:

    Sejarah dunia ini dibentuk dari 2 hal: sejarah umat manusia, dan sejarah keselamatan. Dua hal ini saling berpilin satu sama lain, sehingga tidak ada seorangpun dapat melihatnya tanpa hikmat dari Tuhan. Sejarah manusia dibentuk oleh banyak orang, orang-orang pandai, orang-orang kaya, orang-orang berkuasa, dan lain sebagainya, tetapi sejarah keselamatan hanya dibentuk oleh satu Pribadi, yaitu Pribadi Yesus Kristus.

    Perhatikan 2 hal berikut:
    1. Gereja diperintahkan untuk memandang segala sesuatu dari tahta Allah untuk menemukan panggilan. Daniel pada waktu itu harus melayani 7 orang raja karena bangsa Israel kalah perang dari Kerajaan Babel.
    Mengapa Yoyakim (Raja Israel pada waktu itu) kalah perang dari Raja Nebukadnezar? Bukan karena strategi yang salah, bukan karena hal militer yang salah, bukan karena tidak beruntung, bukan pula karena kebetulan, tetapi memang sepenuhnya karena Tuhan yang mengijinkan semua itu terjadi. Daniel tahu ini adalah panggilan, dan dia taat apapun dan bagaimanapun tantangannya.
    Kita sering kali menunggu-nunggu panggilan, tetapi sesungguhnya pangiglan kita adalah untuk hidup saat ini dan di sini (here and now).

    2. Gereja diperintahkan untuk menjaga kesucian dalam hidup sehari-hari.
    Berbicara tentang kesucian, bukan hanya berbicara tentang kehidupan seksual, tetapi berbicara tentang keadaan gereja Tuhan yang telah ditebus-Nya. Babel adalah personifikasi dari orang-orang anti-theist. Gereja saat ini berada dalam dunia yang seperti Babel. Filosofi, dan segala macamnya yang dari Babel ada di sekeliling kita. Contoh: homoseksualitas, dulunya dianggap sebagai dosa, kemudian berubah hanya sebatas penyakit, kemudian berubah lagi menjadi sebuah pilihan hidup, sekarang telah menjadi hak, dan bukan barang yang mustahil suatu hari kelak akan menjadi suatu kewajiban. Kita perlu mengevaluasi diri kita, apakah kita sudah terhisap, termakan oleh kehidupan yang Babel, apakah kita sudah menjadi serupa dengan Babel.
    Kita harus bisa meneladani hidup Daniel, yang sekalipun tinggal di tengah dunia Babel, ia tetap mempertahankan prinsipnya.

    Refleksi Pribadi:
    Dunia sedang mengarah kepada kebobrokan yang maksimal. Namun gereja Tuhan dituntut untuk juga menjadi maksimal dalam kebenaran dan kesucian. Sering kali saya merasa tidaklah mungkin untuk hidup benar dan suci, sementara dunia, orang-orang di sekitar saya, semuanya melakukan dosa, dan dosa-dosa itu sudah wajar untuk dilakukan, bukan suatu hal yang memalukan, bahkan kadang menjadi suatu hal yang membanggakan. Berkaca dari kehidupan Daniel, Daniel telah membuktikan bahwa hidup benar di tengah dunia yang sukar bukanlah mustahil untuk dilakukan. Bersama Tuhan, ada kuasa untuk bisa mempertahankan kesucian, seburuk apapun lingkungan kita. Saya percaya, hidup saya tidak dimaksudkan untuk terpengaruh arus dunia, tetapi dikontrol oleh Tuhan sendiri untuk menciptakan arus-Nya dalam dunia, sehingga bukan saja saya yang bisa diselamatkan, tetapi lebih dari pada itu, melalui saya, karya Tuhan bisa menjangkau orang-orang lain yang hidupnya masih berantakan, dan terseret oleh arus dosa dunia.
    Saya menyadari bahwa untuk dapat hidup suci di dunia ini bukanlah hal yang mudah. Membawa nama Tuhan dan menjadi duta kerajaan-Nya, menjadi kesaksian bagi banyak orang, bukanlah pekerjaan sepele, malahan menuntut tanggung jawab yang sangat besar. Saya belajar untuk bisa hidup benar dan suci dalam segala tindakan saya, supaya tidak ada seorangpun yang menjadi tersandung atas kehidupan saya, dan supaya tidak ada seorangpun yang menjadi batal terselamatkan, karena melihat ketidakhadiran Kristus dalam pribadi saya. Lewat khotbah tentang hidup Daniel ini, kiranya saya makin dikuatkan untuk bisa hidup benar dan suci, sebagaimanapun arus dunia ini berusaha untuk menyeret saya, saya harus tetap berpendirian teguh, berpegang pada Yesus Kristus sendiri. Amin.